Sunday, June 15, 2014

Surat Untuk Bapak

Bapak, apakabar? 

Aku harap bapak baik-baik saja, tidak mengkhawatirkan kami disini. Kami baik-baik saja pak sungguh, kami sangat bahagia disini.

Tidak terasa sudah hampir enam tahun kita tidak bertemu, aku masih ingat wajah khawatirmu waktu aku berpamitan untuk pulang ke tempat kos ku. Bapak bilang, supaya aku cepat pulang.
Tapi aku terlalu sibuk bekerja hingga lupa pulang.

Pak, bapak pasti sudah tahu tentang kabarku, sekarang aku sudah bekerja dan tidak menyusahkan siapa-siapa lagi. Sejak hari terakhir itu, bapak ingat, waktu bapak melemparku dengan teko kesayangan ibu, waktu kita berdebat soal kuliahku. Sejak itu aku mengusahakan kehidupanku sendiri. Aku bekerja pak, jadi apa saja yang aku bisa dan tentu saja hasil halal keringatku sendiri. Aku bekerja demi kuliahku pak.

Aku ingat bapak pernah bilang, kalau pendidikan itu adalah alat yang mampu mengangkat kita dari kemiskinan, bapak masih ingat itu kan? aku memegangnya hingga sekarang.

Aku minta maaf pak, karena tidak ada bersama bapak, ibu dan adik-adik waktu kalian jatuh, waktu pihak bank menyita rumah, waktu adik-adik butuh bayaran sekolah. Karena aku juga sedang berjuang untuk pendidikanku. Bukan bermaksud egois, tapi aku ingin secepatnya bisa membantu bapak, jika aku sudah lulus dan bekerja seperti sekarang, biar bapak tidak perlu capek lagi.

Sekarang aku memenuhi janjiku pak, aku sudah bekerja dan bisa menyekolahkan adik-adik hingga ke perguruan tinggi. Aku tidak ingin mereka merasakan susah seperti dulu.

Pak, bapak pasti tahu kabar kami semua disini, mas sudah menikah dengan wanita sebrang pulau, ia sangat baik, sopan, dan cantik. Adik-adik juga sehat semua, Danin juga sudah bekerja jadi guru SD di sekolah internasional, Iyo sudah jadi mahasiswa tingkat empat di universitas negeri di Palembang, dan Fani, bontot kesayangan bapak sudah lulus SMA sudah jadi anak gadis yang cantik, dan baru mau masuk kuliah. Ibu juga sehat selalu.. dan punya banyak kegiatan di pengajian.

Pak, banyak sekali kejadian berarti yang aku lewati tanpa bapak. ingatkah bapak, pada laki-laki yang terakhir kali aku kenalkan pada bapak? iya, laki-laki yang pernah berjanji menjaga aku.. yang bapak selalu tanyakan dari mana asalnya, dan siapa nama panjangnya. Ternyata bapak betul, laki-laki itu ternyata tak baik, dia mencampakkan aku dan menikah dengan orang lain, dia melakukannya setelah melamarku. 

Andai saja bapak ada waktu itu, pasti bapak tidak akan membiarkan siapapun menyakiti aku dan merendahkan keluarga kita. Bapak tahu, betapa terpuruknya aku waktu itu. Tapi aku bersyukur karena aku bisa kuat seperti mu.

Pak, bagaimana kabar bapak disana? Sejak bapak meninggalkan kami disini, banyak hal yang aku sesali, aku menyesal karena terlalu gengsi untuk mencium, memeluk dan mengatakan aku mencintaimu, bahkan untuk memijat bahumu saat lelah. Aku terlalu gengsi, karena kita sering sekali bertengkar dan berbeda pendapat soal banyak hal. Sungguh aku menyesalinya.

Pak, disini kami tak pernah lupa membacakan doa untukmu.. semoga kuburmu lapang dan terang. Kami selalu merindukanmu pak. 


dayi


Friday, November 23, 2012

Iklan 'Dumb Way To Die' dan Masyarakat Jakarta



Mendengarkan musik saat berkendara, tetap melintas saat lampu berubah merah, menyebrang rel begitu saja saat sirine masih berbunyi dan palang pintu masih tertutup, naik ke atap saat kereta sedang melaju.. (sisanya bisa sebutkan sendiri)

Terkadang kita sering melakukan hal 'tolol' yang sadar atau tidak dapat mencelakai diri kita sendiri. Ironisnya, hal yang saya maksud 'tolol' tadi rasanya tidak berlaku di Jakarta. Warga jakarta bahkan tidak mengerti mana yang 'tolol' dan mana yang bukan. Pelanggaran tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

"Dumb Way's To Die" sebetulnya iklan layanan masyarakat untuk warga Inggris, iklan ini sebetulnya sarkas dan sarat dengan sindiran tapi dikemas dengan lucu.

Sayangnya iklan layanan masyarakat seperti ini tidak akan berpengaruh banyak jika ditayangkan di Jakarta. :))