Thursday, March 8, 2012

Tradisi Perburuan Paus Dan Teori relatifitas Einstein

Kemarin, saya menulis artikel budaya tentang tradisi perburuan ratusan paus di pulau Faroe Denmark. Sebetulnya sudah lama sekali saya mendapat info tentang tradisi perburuan paus tersebut (sejak tahun 2009 lalu). dulu, saat info tersebut muncul selalu ada kontroversi dalam setiap pemberitaannya. banyak sekali aktifis pecinta binatang yang mengecam keras perburuan paus yang dilakukan dipulau Faroe. pasalnya, perburuan itu dilakukan dengan cara tradisional. apalagi dilengkapi foto-foto yang diambil oleh fotografer Italia yang jika dilihat akan langsung  membentuk opini publik bahwa tradisi itu sangat kejam dan sadis.

Tradisi perburuan paus pulau faroe

Beberapa tahun kemudian sekitar tahun 2010, kebenaran tentang tradisi tersebut terkuak. ternyata tradisi tersebut legal. pemerintah Denmark menyatakan kalau yang mereka buru adalah paus pilot (masih satu species dengan lumba-lumba) dan jumlah mereka di dunia masih dalam jumlah aman. tradisi tersebut sudah berlangsung selama berabad-abad. masyarakat pulau Faroe melakukannya untuk bertahan hidup selama musim dingin. seluruh paus yang ditangkap dagingnya akan dibagikan gratis ke seluruh penduduk pulau, termasuk panti jompo, rumah sakit dan tempat sosial lain. 

Bagi mereka daging paus adalah makanan pokok mereka, karena jarang sekali masyarakat Faroe yang mengkonsumsi daging sapi (karena hewan ternak susah sekali hidup dipulau itu). Letak pulau faroe memang terpencil dan jauh dari Denmark. mereka melakukan ritual tersebut setahun sekali.

Nampaknya setelah membaca fakta yang terjadi, perburuan paus tersebut jadi termaafkan. (^^,) -kalian boleh untuk tidak setuju- sebenarnya mungkin konteksnya sama saja seperti ritual Qurban dalam islam, (hanya saja dalam islam cara menyembelihnya dilakukan dengan sekali tebas agar hewannya tidak tersiksa menjalani kematiannya, dan menyebut asma Allah saat melakukan ritual qurban tersebut). namun konteksnya tetap sama.

Begitulah kehidupan manusia. Saya mencoba menerapkan teori relatifitas einstein dalam kehidupan. Perasaan manusia ditentukan oleh persepsi mereka terhadap apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Manusia sulit menentukan apakah yang mereka lakukan itu benar atau salah, baik atau buruk, semua itu tergantung persepsi mereka, dari sudut mana mereka melihat. Yang pasti, setiap manusia melakukan apapun dengan alasan. Dan nilai sikap mereka adalah relatif.

Dari artikel yang saya tulis kemarin, saya belajar bahwa untuk tidak menilai, bersikap, bertindak dan berpikir hanya dari satu sudut. dengan begitu membuat saya menjadi lebih bijaksana menyikapi hidup.



No comments:

Post a Comment